Rabu, 21 Januari 2015

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah - Resensi Novel


13856180621068625282
Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Judul Novel    : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke 5 : Juli 2013
Karya             : Tere Liye
Jumlah           : 512 Halaman; 20cm
Membaca novel, ibarat kita berpesiar memasuki jalan kehidupan orang lain, termasuk mengecap suka dan duka yang turut mewarnai. Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan situasi, menghubungkan satu peristiwa dan peristiwa lainnya dalam jalinan apik yang terikat satu sama lain pastinya akan membuat kita betah untuk terus menyimaknya. Dan sejenis bom atau kejutan di banyak tempat yang diletakkan oleh penulis dalam novel ini, menjadikannya sungguh seru dan menyegarkan.
Di sisi lain, novel ini juga bertabur hikmah dan pesan bijak yang terbungkus amat rapi dalam setiap peristiwa, sehingga memungkinkan kita mendapatkan berbagai pencerahan darinya
Kali ini, Tere Liye mengambil latar kehidupan nyata nan bersahaja di tepian Sungai Kapuas. Yang adalah kehidupan para pengemudi perahu kayu kecil bermotor di Sungai Kapuas yang dikenal dengan istilah sepit   ( diambil dari kata speed) berikut  penduduk yang melingkupinya. Para tokoh yang multi ras ( penduduk asli Pontianak, warga keturunan Cina, Batak, Dayak, dan Melayu ) yang hidup berdampingan dalam suasana kekerabatan yang erat menjadi salah satu pesan yang dikirimkan sang penulis.
Tersebutlah Borno, seorang anak pengemudi sepit dan tinggal di tepian Kapuas sebagai tokoh utamanya. Borno kecil sudah menunjukkan sebagai anak cerdas nan kritis. Salah satu pertanyaan ketika ia berusia 6 tahun adalah, jika seseorang buang air besar di hulu Kapuas, kira-kira buth berapa hari kotoran itu akan tiba di muara sungai, melintas di depan rumah papan mereka. Ia bertanya ke Bapaknya, ke Ibunya, ke rumah Koh Acong, pemilik toko kelontong, ke Cik Tulani, paman jauhnya. Dan hanya Pak Tua lah yang mampu selalu menjawab keingintahuan Borno. Jawaban yang diberikan Pak Tua selalu bisa memberi pengetahuan yang memperluas wawasan Borno. Dari situlah kedekatan hubungan keduanya terjalin dari hari ke hari. Hingga Pak Tua yang hidup membujang hingga usia senja menganggap Borno seperti anak sendiri. Begitu pula Borno, amat mengagumi dan menyayangi Pak Tua seperti ayahnya sendiri.
Saat usia Borno menginjak 12 tahun, ayahnya yang pengemudi sepit terjatuh dari perahu saat melaut dan tersengat ubur-ubur, sehingga ia kehilangan nyawanya saat di rawat di ruang gawat darurat. Sebelum ayahnya meninggal, beliau mendonorkan jantungnya untuk seseorang yang menderita gagal jantung dan telah lama mencari donor jantung. Ayah Borno memang terkenal sebagai pribadi yang sangat baik di masa hidupnya. Dan kebaikan terakhir yang dilakukannya adalah dengan mendonorkan jantung di RS tempat ia dirawat.
“Bapak belum mati!” aku berteriak marah. “Bapak belum mati. Kenapa dadanya dibelah!” Aku berusaha menyibakkan tangan ibu.
Setelah lulus SMA, ia mulai sibuk mencari pekerjaan. Ia dikenal tetangganya sebagai pemuda yang sering berganti-ganti pekerjaan. Mulai dari bekerja di pabrik karet yang membuat pakaiannya bau oleh olahan getah karet sehingga dibenci para tetangganya. Lalu ia bekerja di dermaga feri sebagai pemeriksa karcis yang kemudian mengakibatkan ia dibenci oleh semua pengemudi sepit yang ada di tepian sungai Kapuas. Para pengemudi sepit menganggap kapal feri yang mereka sebut sebagai pelampung adalah perebut rejeki pengemudi sepit. Kehadiran feri jelas mengurangi jumlah penumpang sepit.
Borno tak goyah oleh segala macam intimidasi pengemudi sepit yang dipelopori oleh Bang Togar. Ia harus melalui jalur memutar dengan naik opelet setiap berangkat dan pulang kerja. Tentu dengan biaya yang jauh lebih mahal pula. Jika akhirnya dia memutuskan untuk berhenti kerja, itu karena dia tidak bisa mentolelir kecurangan rekan kerjanya, petugas pemeriksa karcis yang terjadi di depan matanya. Kedua kawan kerjanya menaikkan penumpang tanpa karcis, dan mereka mendapat imbalan 1/2 harga karcis. Pendapatan per bulan mereka dari hasil korupsi itu mencapai 2 kali lipat dari gajinya. Tapi Borno, pemuda yang tumbuh di lingkungan yang baik dan memiliki idealisme tinggi, memilih berhenti kerja, meski akhir bulan belum tiba. Yang artinya merekakan diri untuk tidak mendapat gaji.
Sebenarnya tawaran lain mendapat rekomendasi untuk bekerja di sarang burung walet, tetapi ia menolaknya karena ia fobia dengan burung. Ia memilih bekerja di SPBU apung di tepian Kapuas dan kemudian bekerja serabutan, hingga akhirnya ia memutuskan menjadi pengemudi sepit. Awalnya Borno tidak mau menjadi pengemudi sepit karena ia teringat pada wasiat ayahnya.
“Kau lihat sendiri, Borno. Beginilah hidup nelayan. Kau sudah merasakannya seharian. Kerja keras, hasil seadanya. Jangan pernah jadi nelayan. Jangan pernah jadi nelayan seperti bapakmu. Juga jangan pernah menjadi pengemudi sepit, Borno. Kakek kau dulu punya sepuluh perahu, kaya raya, tapi lihatlah, dia meninggal dengan mewariskan utang. Jangan pernah jadi pengemudi sepit.”
Namun setelah menimbang selama dua mingguan saran Pak Tua  bahwa mengartikan wasiat itu bukan sebuah larangan, namun harapan untuk meraih penghidupan yang lebih baik, akhirnya mau menjadi pengemudi sepit. Toh ia masih bisa terus mengusahakan pengembangan diri setelah itu. Mungkin suatu ketika Ia pun bisa menjadikan profesi pengemudi sepit sekadar hobi atau kesenangan sebagaimana pengakuan Pak Tua terkait pekerjaan yang masih ditekuni hingga usia senjanya.
Rupanya menjadi pengemudi sepit tak semudah yang ia bayangkan. Lagi-lagi, Pak Tua kembali berperan, dengan memberikan buku usang panduan bagi pemula yang diberikan oleh Pak Tua. Ia juga harus melalui ospek dari Bang Togar yang berkedudukan sebagai ketua PPSKT untuk membersihkan kakus, mengecatnya. Perintah masih dilanjutkan dengan mengecat perahu Bang Togar, menyikat perahunya, dan memperbaiki motor tempelnya. Hingga hari kelulusan pun tiba. Tak disangka, kegalakan Bang Togar selama ini sesungguhnya menyimpan kebaikan, untuk menempa mentalnya. Terbukti, sebuah kejutan istimewa hasil ide Bang Togar diberikan yaitu sebuah sepit baru yang adalah hasil sumbangan penduduk sekitar dan penumpang.
Kebaikan Ayah Borno rupanya tertanam cukup dalam di hati seluruh warga, termasuk Bang Togar. Di masa hidupnya ayah Borno terkenal gemar menolong siapa pun yang datang kepadanya. Bahkan kadangkala ia harus berhutang ke sana kemari untuk tak membiarkan tetangganya kelaparan. Rupanya pepatah gajah mati tinggalkan gading, manusia mati tinggalkan kebajikan menuai buah manis. Borno yang memang dikenal sebagai pemuda berhati lurus dan ringan tangan, amat disayangi oleh banyak orang. Jadi hadiah berupa sepit tersebut adalah salah satu bentuk kepedulian mereka akan nasib anak dari seseorang yang mendapat tempat khusus di hati warga. Meski beliau telah tiada.
Dan di hari pertama Borno menarik sepit, petugas timer memberi tahu bahwa ada sebuah amplop merah tertinggal di sepitnya. Amplop semacam angpau dan dilem rapi itu terjatuh di bangku paling depan. Namun Borno adalah Borno, seorang jujur yang tak mau membuka barang milik orang lain. Dengan berbagai pencarian pemilik yang belum juga di temukan hingga tahun-tahu berikutnya, akhirnya amplop merah itu ia simpan di lemari pakaiannya.
Di sepit yang ia kemudikan itulah ia bertemu dengan seorang gadis berbaju kuning dengan paras sendu menawan keturunan Cina yang memikat hatinya. Sebentuk perasaan kuat untuk mengajaknya berkenalan, atau sekadar menyapa menjadi pekerjaan rumit untuk seorang pemuda polos sepertinya. Di sinilah kisah cinta itu dimulai.
Borno lalu mulai hafal kebiasaan gadis itu menyeberang tepat jam 7.15 pagi. Dan berdasarkan kalkulasinya, waktu tersebut adalah jatuh pada antrean sepit ke 13. Dimana sepit antre untuk mengangkut penumpang, dan ada petugas timer yang mengatur jadwal keberangkatan sepit.
Apakah Borno jatuh hati pada gadis yang bahkan belum diketahui namanya itu? Entahlah. Yang jelas, ia jadi rajin berangkat pagi ke dermaga, dan mendaftarkan diri pada petugas timer untuk mendapat antrean ke 13. Ini dilakukan agar ia bisa menyeberangkan gadis itu dengan sepit miliknya.  Hal-hal yang meleset dari perkiraan juga beberapa kali terjadi meskipun ia merasa sudah cermat berhitung. Kisah ini disajikan demikian segar sehingga bak komedi, namun terasa amat nyata terjadi.
Pada akhirnya, Borno bisa seringkali bertemu gadis berparas sendu menawan itu di sepit miliknya. Dan beberapa kali bertegur sapa ala kadarnya. Itu sudah cukup membuat hari-harinya semarak  penuh warna. Meski telah berkali-kali menyeberangkan gadis itu, ia tak jua tau nama gadis itu. Hingga suatu hari setelah banyak berdiskusi dengan Pak Tua, Borno memberanikan diri untuk bercerita. Bahwa kawan Pak Tua, ada yang sekeluarganya punya nama yang menurutnya lucu. Yaitu menggunakan nama-nama bulan, Borno menertawakannya, berharap gadis di samping kemudinya itu akan ikut tertawa dan terhibur karenanya. Tak disangka, inilah konflik pertama yang dilalui, pada hari pertama ia mengetahui bahwa gadis sendu menawan itu bernama Mei. :D
“Namaku Mei Abang…” Gadis itu beranjak berdiri. “Meskipun itu nama bulan, kuharap Bang Borno tidak menertawakannya. Terimakasih buat tumpangannya.” Borno hanya ternganga saat mengetahui hal tersebut.
Demikianlah, berbagai kisah yang mewarnai perjalanan Borno dalam mendapatkan cinta sejatinya dikemas dengan amat menawan. Petuah-petuah bijak Pak Tua yang menjadi peneduh setiap kali Borno mengalami masa sulit adalah hikmah yang dibingkai dengan elok oleh penulisnya.
“Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.”
“Kalian tahu, cinta sejati itu laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu.”
“Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi sekadar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta.”
“Cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan bisa mencintai tanpa selalu memberi.”
Untuk kau Borno, aku akan membiarkan kau sendiri yang menemukan kalimat bijak itu. Kau sendiri yang akan menulis cerita hebat itu. Untuk orang-orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, bekerja keras, dan sederhana, definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang berbeda, amat berbeda, amat menakjubkan.”
Seiring dengan perjalanan jatuh bangun mendapatkan Mei, gadis yang ia yakini sebagai cinta sejatinya, Borno juga terus belajar dan perlahan tapi pasti membangun masa depannya yaitu dengan menjadi partner kongsi ayah sahabatnya, Andi dalam usaha bengkel motor dan mobil. Borno juga melanjutkan kuliah di teknik mesin.
Mei pulang ke Surabaya tanpa meninggalkan alamat. Sementara Borno yang baru aja senang bukan kepalang bisa seharian mengajari Mei mengemudikan sepit, tentu saja amat kehilangan.
Di tengah keputusasaannya, Pak Tua mengajak Borno berobat alternatif ke Surabaya, dan seperti sudah disuratkan, mereka kembali bertemu di balai pengobatan itu tanpa sengaja. Setelah Borno seharian menghabiskan koin di telepon umum untuk mencoba menghubungi 4 lembar nomor orang yang bernama Sulaiman, nama Bapak Mei yang ia sempat ingat. Tanpa hasil. Lalu mencoba lagi 2 halaman nomor berbeda ejaan ; Soeleman. Dan sebelum merampungkan, tiba-tiba gadis yang di carinya ada di depan matanya dengan mendorong seorang nenek yang juga sedang berobat di klinik tersebut.
Borno kembali ke Pontianak bersama Pak Tua, dan Mei juga datang kembali ke kota itu. Bedanya Mei kini menghindar dari Borno. Ia tak lagi pergi mengajar dengan naik sepit nomor tigabelas sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Ia juga tak lagi bisa di temui di sekolah tempatnya mengajar. Bahkan ia menolak menemui Borno meskipun Borno datang ke rumahnya di Pontianak, dimana Mei dan Bibi tinggal. Borno terus menitipkan secarik pesan pada Bibi untuk memberi kabar terkini. Termasuk pertanyaan demi pertanyaan kenapa, kenapa dan kenapa yang tak pernah dibalas. Lika-liku perjalanan ini cukup komplek dan detail, namun disuguhkan dengan bahasa ringan dan selalu ada kejutan peristiwa dalam setiap babaknya.
Akhirnya diketahuilah bahwa sepucuk angpau merah yang disimpan Borno itu adalah berisi permohonan maaf dari Mei mewakili ibunya yang ternyata adalah dokter bedah yang memutuskan operasi jantung Ayah Borno ketika itu. Setelah menyaksikan Borno kecil menangis parau di lorong rumah sakit, rupanya sang dokter bedah baru tersadar bahwa semestinya keputusan operasi tidak dilakukan. Krena sejatinya ia masih bisa menolong. Namun godaan prestasi yang menggelapkan logikanya akhirnya memutuskan untuk mencangkokkan jantung itu ke orang lain, yang juga adalah sahabatnya sendiri. Rasa berdosa dan penyesalan yang mendalam membuat sang dokter depresi berat, dan sakit selama 3 tahun dengan amat mengenaskan, dan akhirnya meninggal.
Namun bukan Borno, pemuda berhati paling lurus sepanjang tepian Kapuas namanya jika ia tak bisa memaafkan orang yang bahkan telah menghukum dirinya sendiri seperti Ibu Mei itu. Borno adalah potret pribadi menawan dan istimewa yang mungkin tersebar di antara tujuh miliar manusia di bumi saat ini. Dengan kemauan bekerja keras, kesediaannya selalu berdamai dengan setiap cobaan yang menghadang serta memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran, menjadikannya berbeda dari orang lain. Dan Dia pun membayar tunai dengan kebahagiaan hidup yang tercurah di jalannya.
Menyimak setiap lembar peristiwa dari awal hingga akhir, sungguh memberi warna lain yang menghibur bagi kita yang hiruk pikuk dengan pekerjaan dan rutinitas. Maka novel yang berlatar semilir angin di tepian Kapuas ini amat cocok untuk mengisi hari-hari Anda dengan bacaan sarat makna. Selamat membaca!

0 komentar:

Posting Komentar